Membeli Saat Darah Tumpah di Jalan

Di dunia invetasi Barat ada strategi yang berbungi “Buy when there is blood in the street”. Intinya, strategi ini menganjurkan investor untuk membeli saham saat harganya menukik tajam. Strategi ini masuk akal adan banyak professional dan individual sering memndang penurunan tajam pasar modal sebagai peluang beli. Sebanarnya, ini dapat menjadi strategi yang berbahaya.

Pelajaran dari Krisis

Crash 1929 yang disertai dengan depresi ekonomi beberapa tahun sesudahnya dan anjloknya IHSG selama krisis moneter bukanlah waktu yang baik untuk menerapkan strategi “membeli ketika ada darah di jalanan”. Masalah ekonomi serius, yang menyertai penurunan harga saham, mendorong pasar untuk lebih tajam lagi dan memerlukan waktu yang lama untuk bisa pulih. Lamanya proses pemulihan terjadi karena masalah yang dihadapi tidak dapat dengan mudah dibetulkan karena pengetahuan dan sumber daya yang dimiliki hilang tersapu oleh krisis tersebut.

Read More......

Unit Link, Asuransi Sekaligus Investasi

Dalam lima tahun terakhir, produk asuransi unit link telah menjadi idola baru. Kenapa unit link begitu mempesona? Sampai-sampai hampir sebagian besar perusahaan asuransi kini lebih menjadikannya sebagai bintang produknya.
Unit link adalah produk asuransi jiwa yang dikaitkan dengan investasi (unit-linked). Dengan unit link selain memberikan perlindungan jiwa, nasabah juga punya kesempatan berinvestasi seperti di saham, obligasi atau pasar uang yang mungkin selama ini sulit dimasuki oleh investor.

Read More......

Mengamati Sekuritas Afiliasi dengan Emiten di BEI

Tips : Jika sekuritas tersebut tiba – tiba melakukan transaksi pembelian dalam volume besar dengan frekuensi kecil dibanding dengan sekuritas lain.

Maka, saham yang dibeli sekuritas tersebut layak dikoleksi.

Contoh : PT. Danatama Makmur Sekuritas dengan Grup Bakrie (BUMI, UNSP, BTEL, BNBR, ENRG, ELTY)

Tren Adalah Temanmu, Ikutilah !

Untuk sukses bermain saham sebaiknya investor mengikuti nasihat Marty E. Zweig, seorang chartist, penerbit newsletter dan pengelola reksadana. Salah satu nasihatnya adalah : jangan melawan tren. Konsep di belakang nasehat ini telah diketahui umum jauh sebelum ia mengungkapkannya, tetapi Zweig yang menyederhanakannya.

Istilah yang digunakan Zweig untuk menyebut tren adalah tape, lembaran kertas tipis yang digunakan sebagai bahan baku “newsletter” oleh tiga reporter – Charles Henry Dow, Edward Jones dan Charles Bergstresser – dalam melaporkan perkembangan harga saham di Wall Sreet, saat mereka mendirikan Dow Jones & Co pada 1882. Lembaran – lembaran tape tersebut berisi data perkembangan pasar dan harga saham individual dalam bentuk kode dan diedarkan langsung oleh kurir kepada para pelanggan, yakni eksekutif bisnis dan investor di kawasan Wall Sreet. Newsletter inilah yang menjadi cikal – bakal koran The Wall Street Journal. Dow Jones kini masih menyebarluaskan data yang sama, tetapi transmisi berita dilakukan secara elektronis.

Read More......

Pantaulah Saham Dengan Baik

Berinvestasi bukanlah event sekali jadi, tetapi rangkaian proses berkesinambungan. Dan pembelian saham bukanlah langkah akhir dari proses investasi. Sebaiknya saham-saham yang sudah dibeli dipanatau secara periodik untuk melihat kinerjanya. Dari pantauan tersebut investor dapat menentukan follow-up apakah akan tetap memegang, menukar dengan saham lain atau bahkan melepas sama sekali.

Langkah lanjutan dapat dilakukan karena berbagai alasan, mulai dari perubahan kondisi keuangan nasabah, tujuan sudah tercapai, hasil investasi tidak sesuai harapan atau karena ada pilihan lain yang menarik. Sering kali faktor psikologi juga turut menentukan, misalnya merasa tidak nyaman melihat pasar yang berfluktuasi lebih tajam daripada biasanya.

Read More......

Menakar Makna Investasi

Untuk lebih menjamin bahwa untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan, investor akan mencari cara untuk meningkatkan peluang memperolehnya dan mencari cara untuk menurunkan resiko. Cara apa yang dilakukan untuk menurunkan resiko investasi di saham?

Ada sebuah anjuran konvensional untuk menurunkan risiko investasi tyang masih valid sampai sekarang: diversifikasi. Peribahasa “jangan menaruh telur di satu keranjang” menjadi populer dikalangan dunia investasi. Masalahnya kemudian adalah bagaimana menerapkan diversifikasi ini dan seberapa diversifikasi harus dilakukan.

Read More......

Potong Kerugian dan Cari Saham Pemenang

Ada pepatah kuno yang tetap berguna dipegang investor sampai sekarang : juallah saham yang mendatangkan kerugian, yakni saham yang sedang menurun harga dan nilainya ( losing stock ). Dengan logika yang sama, maka menjadi masuk akal untuk tetap memegang saham yang tetap memberikan hasil, sepanjang fundamental sahamnya tetap kuat ( winning stock )

Masalahnya adalah bagaimana mengetahui saham mana dapat dikatakan pecundang ( losers ). Apakah sebuah saham dapat dikatakan pecundang hanya karena investor dalam keadaan loss, yakni harga pasar sekarang berada di bawah harga beli?

Read More......

Mengamati Tanggal Stock Split

Tips : Koleksi saham sebelum stock split, karena saham yang setelah stock split, maka likuiditas di pasar semakin besar, sehingga minat investor untuk koleksi semakin besar.